Mesothelioma is a form of cancer which occurs in thin membranes (called the mesothelium) lining the chest, lungs, abdomen and sometimes the heart. Although quite rare, mesothelioma symptoms strike more than 200 people each year in the United States. The majority of mesothelioma cases are directly linked to asbestos exposure.
Because of the long latency period of mesothelioma, the average age of patients is between 50 and 70 years. Mesothelioma affects men most due to the high exposure of asbestos in industrial typed jobs. Mesothelioma symptoms include respiratory problems, shortness of breath, continual cough and pneumonia. Other mesothelioma symptoms include weight loss, abdominal problems and swelling. In some mesothelioma patients, the mesothelioma symptoms are quite muted, making it hard for mesothelioma doctors to diagnose.
Mesothelioma doctors specialize in the study, research, and treatments of Mesothelioma cancers.
Mesothelioma (or the cancer of the mesothelium) is a disease in which cells become abnormal and replicate without control. During Mesothelioma, these cells will invade and damage tissues and organs. Mesothelioma cancer cells can spread throughout the body causing death.
Mesothelioma treatments and Mesothelioma clinical trials and tests
There are many mesothelioma treatment options available. Treatments include surgery, radiation therapy and chemotherapy and the mesothelioma treatment depends on the patient’s age, general health and stage of the cancer. There has been much mesothelioma research conducted throughout the past two years to find new treatment methods. Click here to read more about mesothelioma treatment techniques.
Through mesothelioma research, The National Cancer Institute has sponsored mesothelioma tests and clinical trials that are designed to find new treatment methods. Because of the increase in number of mesothelioma cases in the United States, both governments have increased funding for mesothelioma research. Mesothelioma research and clinical trials have been successful in developing new techniques to fight this cancer and the outlook for more advanced mesothelioma treatments is promising.
Surgery is the most common treatment method for malignant mesothelioma. Tissues and linings affected by mesothelioma are removed by the doctor and may include the lung or even diaphragm.
A second mesothelioma treatment method is radiation therapy through the use of high energy x-rays that kill the cancer cells. Radiation therapy can be outside or inside the body.
A third mesothelioma treatment method is chemotherapy. Through pills or drugs through needles, chemotherapy drugs are used to kill cancer cells.
A new mesothelioma treatment method is called intraoperative photodynamic therapy. In this treatment, light and drugs are used to kill cancer cells during surgery for early stages of mesothelioma in the chest. Although there are numerous treatments and drugs for mesothelioma, doctors are losing the battle against this deadly disease. Most mesothelioma treatments involve old techniques combined with different drug cocktails. However, in most cases, these mesothelioma treatments have many side effects including organ damage, nausea, increase in heart failure etc. The rush to find a more effective mesothelioma treatment or even cure is ongoing at numerous clinical labs across the nation. Let's hope that the mesothelioma treatments will one day erradicate mesothelioma cancer and asbestosis.
With an abundance of information on the Internet, Mesothelioma Cancer and Asbestos ([http://www.mesothelioma-cancer-and-asbestos.com]) has consolidated the most important issues surrounding Mesothelioma, Mesothelioma doctors and symptoms, Mesothelioma treatment, Mesothelioma research and tests.
At [http://www.mesothelioma-cancer-and-asbestos.com], the website contains useful resources on Mesothelioma lawyers and attorneys, as well as causes by asbestos exposure, asbestos removal, asbestos attorneys and lawsuits, and asbestos cancer. Patients stricken by Mesothelioma and their families require support and current information. Mesothelioma Online Resources hopes to educate and give hope to survivors and victims.
Mesothelioma is such a harsh disease. Not only does it take years for symptoms to appear, but there are limited treatements and drugs that will prolong the lives of workers stricken with mesothelioma. In many cases, the death rate of mesothelioma is unfortunately very high. However, with increased funding in mesothelioma research through the government and private grants, the outlook for a mesothelioma cure is quite possible. In the meantime, mesothelioma support groups and local discussions provide the ongoing support for mesothelioma patients.
Mesothelioma Cancer and Asbestos ([http://www.mesothelioma-cancer-and-asbestos.com])is your source for mesothelioma and asbestos information, treatments, clinical trials, attorneys, support groups and lawyers.
About the website: Michael Kenneth is a successful Internet Publisher and has researched and written on many topics for [http://www.mesothelioma-cancer-and-asbestos.com] - your complete source for mesothelioma information, mesothelioma attorneys and lawyers, mesothelioma treatments and research, asbestos exposure and removal, asbestos attorneys and legislation as well as asbestos cancer.
Loading...
Aku tertegun saat suamiku berucap akan mengenalkan istri barunya. Antara percaya dan tidak percaya. Ternyata suamiku telah menikah lagi beberapa pekan yang lalu. Seorang madu telah suamiku hadirkan. Seorang wanita yang usianya lebih tua sedikit di atasku.
Jujur, awalnya aku merasa biasa. Taqdir telah bicara. Tak ada luka apalagi sakit. Perasaanku tak berubah sedikitpun. Secara kok beda banget dengan kebanyakan wanita, yang biasanya langsung berlinang air mata. Aku hanya ingin sangat berhati-hati menyikapi semua ini. Agar tidak sampai terpeleset dalam ujian sensitif bagi wanita seshalih apapun ia.
Namun perlahan tapi pasti, ada sesuatu yang menyeruak dalam dadaku. Inikah rasa yang begitu sulit untuk digambarkan dalam kata. Entahlah, yang aku tahu suami yang amat aku cintai telah membagi cinta dan segalanya.
Terkesima, untuk sesaat aku terkenang kisah istri-istri nabi saat sang rasul menghadirkan madu baru dalam biduk rumah tangga beliau. Adalah Aisyah yang cemburu saat Juwairiyah menemui sang kekasih dan kemudian rasulullah nikahi. Pun saat Aisyah cemburu ketika selepas safar rasul membawa istri baru Shafiyah yang jelita. Juga cemburunya Hafsyah terhadap Mariatul Al-Qibtiyah yang cantik rupawan. Namun mereka tetap mengucapkan selamat dan menyampaikan doa atas pernikahan suami, sang rasul pilihan.
Ya Robb, istri rasulullah saja cemburu saat hadir madu baru, bagaimana mungkin aku tidak? Sementara aku adalah wanita yang amat biasa. Tak seujung kuku dibandingkan istri nabi. Namun hingga detik ini, cemburuku memang bukan cemburu biasa. Apalagi pada seseorang yang aku pun sama sekali tak mengenalnya. Karena sampai saat ini, aku belum bisa cemburu dengan madu, siapa pun ia. Hanya bidadari yang betul-betul membuatku cemburu, makhluk langit yang akan mengejekku saat aku marah dengan suami.
Tiba-tiba semua memori tentang poligami mereka yang biasa curhat denganku berloncatan keluar. Aah, hampir semua meneteskan airmata dan luka. Hampir semua merasakan kekecewaan yang mendalam terhadap sang suami. Tak banyak yang mau bertahan dan justru memilih jalan kesendirian dalam menyikapinya. Teringat pula aku dengan kisah istri Aa Gym yang kemudian pernah minta cerai saat sang Ustadz menikah lagi. Baru aku tahu, mungkin inilah rasanya. Sakit dan kemudian serasa ada yang hilang.
Aku hampa dalam rasa. Entahlah, semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Poligami ternyata punya rasa yang amat berbeda dari sisi mana posisiku berada. Sebagai yang terlebih dahulu dinikahi atau yang kemudian. Di awal-awal poligami, tak ada sejarahnya bila yang tidak suka atau cemburu adalah yang terkemudian dinikahi. Gak wajar malah. Pasti yang terdahulu yang cemburu. Aisyah yang cemburu saat rasul menikahi Shafiyah, bukan sebaliknya.
Kini setelah suamiku menikah lagi, ini menjadi ujianku. Terngiang kembali bayangan saat aku mengisi sebuah kajian. Kala aku bercerita tentang pemuda miskin, yang atas perintah rasul disuruh menikah. Menikah membuka pintu rezeki, begitu sabda beliau. Maka menikahlah sang pemuda, namun bukannya jadi kaya tapi justru tambah miskin. Lalu datanglah sang pemuda menghadap rasul untuk minta solusi. Rasul pun menyuruh untuk menikah lagi. Meski bingung, sang pemuda tetap mematuhi perintah nabi junjungan. Namun setelah itu, kemiskinan sang pemuda semakin bertambah. Menghadap lagi ia pada baginda rasul. Dan lagi-lagi rasul menyuruh sang pemuda menikah lagi. Saat kemiskinan semakin membelit dengan tiga orang istri, sang pemuda komplain kepada nabinya. Lagi-lagi rasul memberi solusi untuk menikah lagi, hingga genaplah istrinya empat orang, memenuhi quota maksimal yang diberikan. Setelah itu perubahan besar terjadi, istri keempat ternyata memiliki ilmu ketrampilan baru yang bisa ditularkan ke semua istri. Jadilah si pemuda orang kaya yang sukses berbisnis dan berpoligami.
Ya Allah, Sesungguhnya bibir ini pernah berucap ridha dan menerima poligami sebagai syariat-Mu. Namun mendadak semua lupa, seolah tak pernah ada. Sesungguhnya pelajaran tentang poligami telah begitu nyata di hadapan mata. Tentang sahabat, saudara yang juga hidup berpoligami. Dan mereka yang memilih jalan itu baik-baik saja, selama berpijak pada aturan-Nya, tak ada masalah yang tak mampu untuk diselesaikan. Namun goresan luka, telah melepas sendi kesadaran saat berpijak. Duhai hati, kemana engkau membalik? Kemana jiwa yang tenang pergi?
Malam itu, aku terlelap dengan tanpa sadar berucap segala dzikir dan doa. Entah apa saja yang aku ucapkan. Aku hanya ingin selamat dari pusaran rasa yang tak kunjung bertepi. Ingin rasanya menangis, tapi tetap tak bisa. Padahal airmata lah yang biasa melapangkan hati, membersihkan pikiran dan penyakit kotor.
Esoknya…
Aku benar-benar kecewa dengan suamiku. Bisikan setan mulai menyelinap di telingaku. Benar-benar kacau. Tak boleh aku biarkan. Tapi sebal dan dongkol malah mulai bermunculan dan tak mau pergi, rasanya masih begitu sulit untuk berbagi suami dengan pendatang baru.
Ini yang akhirnya membuatku amat geregetan. Di satu sisi aku dongkol dengan suami, tapi di sisi lain aku gak mau diejek, sama bidadari pula. Oh my God, masa’ hamba tega dengan seorang imam yang amat aku kasihi? Seorang suami yang hadirnya pun sangat aku rindukan, saat giliranku tiba. Seorang pria yang telah menjadi ayah anak-anakku. Duuh, sampai kapan ikhlas hadir, menghilangkan dongkol mikio. Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku (nah loh malah latah ikutan lagu yang setiap hari terdengar di telingaku saat di jalanan). Sakit saat harus sebal dengan suami belahan jiwa. Saat dua rasa beraduk jadi satu antara benci dan cinta. Tubuhku jadi ikut-ikutan sakit, lemes dan menjadi lemah.
Ya Robb, begini amat rasanya saat pujaan hati memiliki istri lagi. Kemana menguapnya kajian ilmu yang sering aku ikuti. Yang antara lain juga tentang poligami. Kemana menjauhnya kalimat-kalimat nasihat, saat beberapa orang sahabatku terluka mendapati suaminya telah poligami. Kemana? Aku hanya ingin segundah apapun hatiku, semua masih dalam rel-Nya. Sungguh aku tak lagi mampu berpikir apa-apa, aku hanya ingin mengandalkan-Mu saja untuk menyelesaikan kegalauan hati. Hatiku pun hanya Engkau yang memiliki dan berkuasa membolak-balikkan ke arah yang mungkin tak terduga.
Dalam doa di sepertiga malam aku hanya bisa pasrah. Apapun itu segala yang telah terjadi adalah yang terbaik dan atas seizin Allah. Semua peristiwa pasti ada hikmahnya. Demikian juga dalam pernikahanku. Ucapan lembut dan mesra suamiku pun masih menghujani hatiku. Tak ada yang berubah. Sejak menikah lagi, suamiku pun masih tetap romantis. Tak ada yang berubah dengan cinta dan rindunya untukku. Stabilitas politik di antara kami masih pula terjaga. Lalu mengapa aku mesti dongkol? Tak ada alasan.
Kalau memang cinta, seharusnya kebahagiaan suamiku adalah yang utama. Jika memiliki banyak istri akan membawa kebaikan untuk suami, ketenangan dan kebahagiaan, serta lebih bisa menjaganya dari fitnah wanita, kenapa harus aku permasalahkan? Kasihannya suamiku, kala dalam safarnya harus sering bertemu wanita-wanita cantik nan seksi mempesona. Wanita yang memang Allah ciptakan penuh keindahan, bertebaran di jalanan tanpa menutup aurat dan menggoda iman pria. Wanita-wanita yang sebagai sesama wanita aku pun kadang mengakui kecantikan dan keindahannya yang luar biasa.
Kalau sudah seperti ini masa iya aku masih tak mengerti. Lagipula kuota suami untuk menambah istri lagi memang masih ada. Siapalah aku, Aisyah yang amat rasul sayangi pun punya madu. Madu-madu shalihah yang dinikahi rasul setelah beliau ada delapan orang.
Bukankah madu juga hadiah terindah? Allah menjanjikan syurga bagi istri yang ridha suaminya menikah lagi. Madu shalihah juga bisa menjadi sahabat dan saudara seiman. Punya ikatan dan tujuan yang sama, untuk membahagiakan pria yang sama-sama dicintai. Astaghfirullah, mengapa aku mesti larut dalam lautan rasa yang begitu luasnya? Mengapa mesti terpengaruh dengan sebagian besar wanita yang memang alergi dengan poligami?
Wuih, aku bisa tidur tenang setelah ini. Suami hanyalah manusia biasa yang penuh kekurangan, kelemahan dan keterbatasan. Hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa Allah ambil kembali. Egepe aja daah. Sepertiga malam sudah menungguku. Di sana aku bisa mengadukan segala isi hati. Bisa menangis kala teringat segala dosa. Bisa kuadukan pula suamiku pada Rabbnya.
Sebelum tidur, aku menelpon maduku. Komunikasi keduaku, setelah sebelumnya saling menelpon untuk sedikit berkenalan. Aku tidak tau apa-apa tentangnya kecuali sebuah nama panggilan dan status sebelum menikah dengan suamiku. My lovely handsome husband juga gak cerita apa pun tentangnya. Ternyata, sesuai usianya yang di atasku sedikit ia wanita yang memang dewasa dan InsyaAllah shalihah. Setidaknya dari beberapa pertanyaan yang aku ajukan, aku dapati jawaban yang melegakan. Gaya bicaranya sama persis dengan sahabatku yang telah lama tak jumpa. Menggugah kerinduanku pada sebuah masa ketika kuliah dulu.
Meski sama sekali gak mengenalnya, kenalan pun hanya lewat udara, aku merasa ada kecocokan dengannya. Merasa dekat seperti bicara dengan seorang kakak. Rasanya aku juga mulai menyayanginya. What? Entahlah. Gak tahu juga kenapa. Kok berbeda kali ya dengan cerita pengalaman teman-teman yang pada “panas” saat komunikasi pertama dengan sang madu via telpon. Apalagi komunikasi selanjutnya, kalau gak diam penuh kesinisan ya sewot-sewotan.
Esoknya lagi…..
Di sepertiga malam tepat jam 3 pagi aku terbangun. Tidur yang sekejap sudah menyegarkanku. Setelah berwudhu, aku bergegas tahajud. Benar juga, saat ingat mati, segala dosa dan kedzaliman yang pernah aku lakukan, air mataku tak terbendung lagi. Aku jadi lupa kalau mau mengadu badai hati kala suami membagi cintanya.
Subhanallah, tiba-tiba hatiku terasa enteng. Nyaman, dan aku merasa biasa lagi, gak kepikiran lagi dengan pernikahan suami. Kok bisa? Mene ketehe… hehehe… Hatiku plong. Wuih, aku bisa membagi pengalaman dikasih madu tuk teman-teman. Gak sesulit dan sepahit yang mereka kira. Apalagi saat kita yakin, ada kekuatan Allah yang Maha di balik setiap ujian hamba. Ternyata aku gak kalah sama para istrinya eyang subur. Yess!
Selepas subuh, aku baca Alquran. Kitab suci yang sedari kecil sangat menenangkanku saat aku baca. Apa pun masalah yang aku hadapi, setelah membaca Alquran hatiku menjadi tenang. Kadang langsung saat itu juga, kadang beberapa saat kemudian.
Mendadak, tiba-tiba ada angin segar menerpaku. Ada debaran aneh menyelimuti di dadaku. Aku teringat suami dan semua tentangnya. Tatapan matanya yang menggetarkan, ucapannya yang meneduhkan, candaannya yang sering membuatku terpingkal, keromantisannya yang selalu mendatangkan debaran, dekapannya yang menyejukkan dan semuamua tentang suamiku. Memoriku berputar tak terkendali. Semua waktu saat bersama suami terasa begitu indah. Oh my God, aku jadi amat merindukannya. Jiwaku melayang dengan segala rasa yang berloncatan, membuncah tak karuan. Aku baru seperti mengenal suamiku, kala cinta menggoda di pandangan pertama. Help me… rasa ini semakin tak bisa aku kuasai. Aku merasa seperti orang yang sedang jatuh cinta. Seperti awal-awal dulu saat bertemu suami. Hanya ada rindu dan cinta yang menggebu-gebu. Melayang-melayang terbang tinggi rasaku dibuatnya
sumber : (kisahislam.net)
![]() |
| sumber : wanita.org |
Jujur, awalnya aku merasa biasa. Taqdir telah bicara. Tak ada luka apalagi sakit. Perasaanku tak berubah sedikitpun. Secara kok beda banget dengan kebanyakan wanita, yang biasanya langsung berlinang air mata. Aku hanya ingin sangat berhati-hati menyikapi semua ini. Agar tidak sampai terpeleset dalam ujian sensitif bagi wanita seshalih apapun ia.
Namun perlahan tapi pasti, ada sesuatu yang menyeruak dalam dadaku. Inikah rasa yang begitu sulit untuk digambarkan dalam kata. Entahlah, yang aku tahu suami yang amat aku cintai telah membagi cinta dan segalanya.
Terkesima, untuk sesaat aku terkenang kisah istri-istri nabi saat sang rasul menghadirkan madu baru dalam biduk rumah tangga beliau. Adalah Aisyah yang cemburu saat Juwairiyah menemui sang kekasih dan kemudian rasulullah nikahi. Pun saat Aisyah cemburu ketika selepas safar rasul membawa istri baru Shafiyah yang jelita. Juga cemburunya Hafsyah terhadap Mariatul Al-Qibtiyah yang cantik rupawan. Namun mereka tetap mengucapkan selamat dan menyampaikan doa atas pernikahan suami, sang rasul pilihan.
Ya Robb, istri rasulullah saja cemburu saat hadir madu baru, bagaimana mungkin aku tidak? Sementara aku adalah wanita yang amat biasa. Tak seujung kuku dibandingkan istri nabi. Namun hingga detik ini, cemburuku memang bukan cemburu biasa. Apalagi pada seseorang yang aku pun sama sekali tak mengenalnya. Karena sampai saat ini, aku belum bisa cemburu dengan madu, siapa pun ia. Hanya bidadari yang betul-betul membuatku cemburu, makhluk langit yang akan mengejekku saat aku marah dengan suami.
Tiba-tiba semua memori tentang poligami mereka yang biasa curhat denganku berloncatan keluar. Aah, hampir semua meneteskan airmata dan luka. Hampir semua merasakan kekecewaan yang mendalam terhadap sang suami. Tak banyak yang mau bertahan dan justru memilih jalan kesendirian dalam menyikapinya. Teringat pula aku dengan kisah istri Aa Gym yang kemudian pernah minta cerai saat sang Ustadz menikah lagi. Baru aku tahu, mungkin inilah rasanya. Sakit dan kemudian serasa ada yang hilang.
Aku hampa dalam rasa. Entahlah, semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Poligami ternyata punya rasa yang amat berbeda dari sisi mana posisiku berada. Sebagai yang terlebih dahulu dinikahi atau yang kemudian. Di awal-awal poligami, tak ada sejarahnya bila yang tidak suka atau cemburu adalah yang terkemudian dinikahi. Gak wajar malah. Pasti yang terdahulu yang cemburu. Aisyah yang cemburu saat rasul menikahi Shafiyah, bukan sebaliknya.
Kini setelah suamiku menikah lagi, ini menjadi ujianku. Terngiang kembali bayangan saat aku mengisi sebuah kajian. Kala aku bercerita tentang pemuda miskin, yang atas perintah rasul disuruh menikah. Menikah membuka pintu rezeki, begitu sabda beliau. Maka menikahlah sang pemuda, namun bukannya jadi kaya tapi justru tambah miskin. Lalu datanglah sang pemuda menghadap rasul untuk minta solusi. Rasul pun menyuruh untuk menikah lagi. Meski bingung, sang pemuda tetap mematuhi perintah nabi junjungan. Namun setelah itu, kemiskinan sang pemuda semakin bertambah. Menghadap lagi ia pada baginda rasul. Dan lagi-lagi rasul menyuruh sang pemuda menikah lagi. Saat kemiskinan semakin membelit dengan tiga orang istri, sang pemuda komplain kepada nabinya. Lagi-lagi rasul memberi solusi untuk menikah lagi, hingga genaplah istrinya empat orang, memenuhi quota maksimal yang diberikan. Setelah itu perubahan besar terjadi, istri keempat ternyata memiliki ilmu ketrampilan baru yang bisa ditularkan ke semua istri. Jadilah si pemuda orang kaya yang sukses berbisnis dan berpoligami.
Ya Allah, Sesungguhnya bibir ini pernah berucap ridha dan menerima poligami sebagai syariat-Mu. Namun mendadak semua lupa, seolah tak pernah ada. Sesungguhnya pelajaran tentang poligami telah begitu nyata di hadapan mata. Tentang sahabat, saudara yang juga hidup berpoligami. Dan mereka yang memilih jalan itu baik-baik saja, selama berpijak pada aturan-Nya, tak ada masalah yang tak mampu untuk diselesaikan. Namun goresan luka, telah melepas sendi kesadaran saat berpijak. Duhai hati, kemana engkau membalik? Kemana jiwa yang tenang pergi?
Malam itu, aku terlelap dengan tanpa sadar berucap segala dzikir dan doa. Entah apa saja yang aku ucapkan. Aku hanya ingin selamat dari pusaran rasa yang tak kunjung bertepi. Ingin rasanya menangis, tapi tetap tak bisa. Padahal airmata lah yang biasa melapangkan hati, membersihkan pikiran dan penyakit kotor.
Esoknya…
Aku benar-benar kecewa dengan suamiku. Bisikan setan mulai menyelinap di telingaku. Benar-benar kacau. Tak boleh aku biarkan. Tapi sebal dan dongkol malah mulai bermunculan dan tak mau pergi, rasanya masih begitu sulit untuk berbagi suami dengan pendatang baru.
Ini yang akhirnya membuatku amat geregetan. Di satu sisi aku dongkol dengan suami, tapi di sisi lain aku gak mau diejek, sama bidadari pula. Oh my God, masa’ hamba tega dengan seorang imam yang amat aku kasihi? Seorang suami yang hadirnya pun sangat aku rindukan, saat giliranku tiba. Seorang pria yang telah menjadi ayah anak-anakku. Duuh, sampai kapan ikhlas hadir, menghilangkan dongkol mikio. Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku (nah loh malah latah ikutan lagu yang setiap hari terdengar di telingaku saat di jalanan). Sakit saat harus sebal dengan suami belahan jiwa. Saat dua rasa beraduk jadi satu antara benci dan cinta. Tubuhku jadi ikut-ikutan sakit, lemes dan menjadi lemah.
Ya Robb, begini amat rasanya saat pujaan hati memiliki istri lagi. Kemana menguapnya kajian ilmu yang sering aku ikuti. Yang antara lain juga tentang poligami. Kemana menjauhnya kalimat-kalimat nasihat, saat beberapa orang sahabatku terluka mendapati suaminya telah poligami. Kemana? Aku hanya ingin segundah apapun hatiku, semua masih dalam rel-Nya. Sungguh aku tak lagi mampu berpikir apa-apa, aku hanya ingin mengandalkan-Mu saja untuk menyelesaikan kegalauan hati. Hatiku pun hanya Engkau yang memiliki dan berkuasa membolak-balikkan ke arah yang mungkin tak terduga.
Dalam doa di sepertiga malam aku hanya bisa pasrah. Apapun itu segala yang telah terjadi adalah yang terbaik dan atas seizin Allah. Semua peristiwa pasti ada hikmahnya. Demikian juga dalam pernikahanku. Ucapan lembut dan mesra suamiku pun masih menghujani hatiku. Tak ada yang berubah. Sejak menikah lagi, suamiku pun masih tetap romantis. Tak ada yang berubah dengan cinta dan rindunya untukku. Stabilitas politik di antara kami masih pula terjaga. Lalu mengapa aku mesti dongkol? Tak ada alasan.
Kalau memang cinta, seharusnya kebahagiaan suamiku adalah yang utama. Jika memiliki banyak istri akan membawa kebaikan untuk suami, ketenangan dan kebahagiaan, serta lebih bisa menjaganya dari fitnah wanita, kenapa harus aku permasalahkan? Kasihannya suamiku, kala dalam safarnya harus sering bertemu wanita-wanita cantik nan seksi mempesona. Wanita yang memang Allah ciptakan penuh keindahan, bertebaran di jalanan tanpa menutup aurat dan menggoda iman pria. Wanita-wanita yang sebagai sesama wanita aku pun kadang mengakui kecantikan dan keindahannya yang luar biasa.
Kalau sudah seperti ini masa iya aku masih tak mengerti. Lagipula kuota suami untuk menambah istri lagi memang masih ada. Siapalah aku, Aisyah yang amat rasul sayangi pun punya madu. Madu-madu shalihah yang dinikahi rasul setelah beliau ada delapan orang.
Bukankah madu juga hadiah terindah? Allah menjanjikan syurga bagi istri yang ridha suaminya menikah lagi. Madu shalihah juga bisa menjadi sahabat dan saudara seiman. Punya ikatan dan tujuan yang sama, untuk membahagiakan pria yang sama-sama dicintai. Astaghfirullah, mengapa aku mesti larut dalam lautan rasa yang begitu luasnya? Mengapa mesti terpengaruh dengan sebagian besar wanita yang memang alergi dengan poligami?
Wuih, aku bisa tidur tenang setelah ini. Suami hanyalah manusia biasa yang penuh kekurangan, kelemahan dan keterbatasan. Hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa Allah ambil kembali. Egepe aja daah. Sepertiga malam sudah menungguku. Di sana aku bisa mengadukan segala isi hati. Bisa menangis kala teringat segala dosa. Bisa kuadukan pula suamiku pada Rabbnya.
Sebelum tidur, aku menelpon maduku. Komunikasi keduaku, setelah sebelumnya saling menelpon untuk sedikit berkenalan. Aku tidak tau apa-apa tentangnya kecuali sebuah nama panggilan dan status sebelum menikah dengan suamiku. My lovely handsome husband juga gak cerita apa pun tentangnya. Ternyata, sesuai usianya yang di atasku sedikit ia wanita yang memang dewasa dan InsyaAllah shalihah. Setidaknya dari beberapa pertanyaan yang aku ajukan, aku dapati jawaban yang melegakan. Gaya bicaranya sama persis dengan sahabatku yang telah lama tak jumpa. Menggugah kerinduanku pada sebuah masa ketika kuliah dulu.
Meski sama sekali gak mengenalnya, kenalan pun hanya lewat udara, aku merasa ada kecocokan dengannya. Merasa dekat seperti bicara dengan seorang kakak. Rasanya aku juga mulai menyayanginya. What? Entahlah. Gak tahu juga kenapa. Kok berbeda kali ya dengan cerita pengalaman teman-teman yang pada “panas” saat komunikasi pertama dengan sang madu via telpon. Apalagi komunikasi selanjutnya, kalau gak diam penuh kesinisan ya sewot-sewotan.
Esoknya lagi…..
Di sepertiga malam tepat jam 3 pagi aku terbangun. Tidur yang sekejap sudah menyegarkanku. Setelah berwudhu, aku bergegas tahajud. Benar juga, saat ingat mati, segala dosa dan kedzaliman yang pernah aku lakukan, air mataku tak terbendung lagi. Aku jadi lupa kalau mau mengadu badai hati kala suami membagi cintanya.
Subhanallah, tiba-tiba hatiku terasa enteng. Nyaman, dan aku merasa biasa lagi, gak kepikiran lagi dengan pernikahan suami. Kok bisa? Mene ketehe… hehehe… Hatiku plong. Wuih, aku bisa membagi pengalaman dikasih madu tuk teman-teman. Gak sesulit dan sepahit yang mereka kira. Apalagi saat kita yakin, ada kekuatan Allah yang Maha di balik setiap ujian hamba. Ternyata aku gak kalah sama para istrinya eyang subur. Yess!
Selepas subuh, aku baca Alquran. Kitab suci yang sedari kecil sangat menenangkanku saat aku baca. Apa pun masalah yang aku hadapi, setelah membaca Alquran hatiku menjadi tenang. Kadang langsung saat itu juga, kadang beberapa saat kemudian.
Mendadak, tiba-tiba ada angin segar menerpaku. Ada debaran aneh menyelimuti di dadaku. Aku teringat suami dan semua tentangnya. Tatapan matanya yang menggetarkan, ucapannya yang meneduhkan, candaannya yang sering membuatku terpingkal, keromantisannya yang selalu mendatangkan debaran, dekapannya yang menyejukkan dan semuamua tentang suamiku. Memoriku berputar tak terkendali. Semua waktu saat bersama suami terasa begitu indah. Oh my God, aku jadi amat merindukannya. Jiwaku melayang dengan segala rasa yang berloncatan, membuncah tak karuan. Aku baru seperti mengenal suamiku, kala cinta menggoda di pandangan pertama. Help me… rasa ini semakin tak bisa aku kuasai. Aku merasa seperti orang yang sedang jatuh cinta. Seperti awal-awal dulu saat bertemu suami. Hanya ada rindu dan cinta yang menggebu-gebu. Melayang-melayang terbang tinggi rasaku dibuatnya
sumber : (kisahislam.net)
Loading...
web hosting surabaya
cpanel web hosting
beli web hosting
daftar domain
membuat web hosting
jakarta web hosting
wordpress hosting indonesia
indo web hosting
web hosting termurah
hosting indonesia gratis
singapore hosting
sewa web hosting
hosting tangguh
buy hosting
vps hosting indonesia
web hosting indonesia terbaik
web hosting indonesia gratis
web hosting terbaik
hosting web
beli domain dan hosting murah
web hosting murah
beli hosting murah
daftar web hosting
shared hosting murah
web hosting murah unlimited
web hosting indonesia
web hosting terbaik indonesia
hosting murah unlimited
review hosting indonesia
70
Rp 2.03 0.47
web hosting terbaik di indonesia
90
Rp 1.96 0.46
hosting terbaik
1600
Rp 1.91 0.42
sewa hosting murah
30
Rp 1.9 0.79
hosting indonesia terbaik
390
Rp 1.89 0.4
paket hosting murah
40
Rp 1.87 0.96
vps hosting murah
30
Rp 1.85 0.97
jasa web hosting
30
Rp 1.78 0.73
hosting terbaik indonesia
880
Rp 1.77 0.44
web hosting murah indonesia
70
Rp 1.77 0.71
best hosting indonesia
90
Rp 1.7 0.62
hosting murah
5400
Rp 1.7 0.93
domain id
1000
Rp 1.69 0.45
hosting cpanel
110
Rp 1.69 0.61
hosting dan domain
210
Rp 1.66 0.64
hosting free
880
Rp 1.66 0.64
top 10 web hosting indonesia
50
Rp 1.64 0.67
bisnis hosting
50
Rp 1.63 0.43
jual domain murah
210
Rp 1.62 0.89
web hosting gratis
2900
Rp 1.62 0.55
beli domain dan hosting
590
Rp 1.6 0.68
domain hosting indonesia
50
Rp 1.6 0.82
beli hosting
390
Rp 1.58 0.72
bisnis web hosting
20
Rp 1.57 0.73
email hosting indonesia
260
Rp 1.56 0.46
membuat server hosting sendiri
70
Rp 1.52 0.16
free hosting and domain
480
Rp 1.51 0.64
harga domain
880
Rp 1.49 0.51
telkom hosting
90
Rp 1.49 0.1
hosting indonesia murah
90
Rp 1.46 0.88
hosting terbaik di indonesia
210
Rp 1.46 0.5
cara hosting web
480
Rp 1.44 0.38
unlimited hosting
140
Rp 1.44 0.92
biznet hosting
140
Rp 1.42 0.22
unlimited hosting indonesia
50
Rp 1.42 0.88
top hosting indonesia
30
Rp 1.41 0.58
hosting yang bagus
50
Rp 1.4 0.48
asian brain hosting
40
Rp 1.39 0.19
domain dan hosting murah
170
Rp 1.39 0.94
domain hosting murah
320
Rp 1.37 0.63
cara beli domain
320
Rp 1.35 0.48
beli domain murah
880
Rp 1.34 0.72
plasa hosting
260
Rp 1.34 0.15
hosting murah indonesia
jagoan hosting surabaya
jual domain
hosting server indonesia
cara pindah hosting
pasarhosting
sewa domain
webhost
cpanel hosting
hosting murah berkualitas
domain dan hosting
harga hosting
membuat server hosting
daftar hosting
harga hosting dan domain
windows hosting indonesia
jasa hosting terbaik
jasa hosting murah
hosting indonesia
domain paling murah
hosting termurah indonesia
pengertian domain dan hosting
hosting gratis terbaik
domain dan hosting gratis
